twitter
rss

Image


“Semoga Allah memberi saya rejeki yang halal, apapun yang masuk ke perut saya adalah makanan yang halal. Apabila saya makan makanan dari hasil yang tidak halal, semoga saya tidak semakin kenyang tapi semakin lapar.” Inilah doa yang sering saya dengungkan saat menjadi guru.

Bukan tanpa sebab. Ada beberapa pengalaman yang membuat saya mengucapkan kalimat itu.

Pernah suatu hari, kepala sekolah meminta saya membubuhi stempel di laporan BOS yang super tebal. Saya terima buku BOS dengan hormat dan mulai membubuhi.

Namun tiba-tiba hati saya berkata, “kalau BOS ini benar, semoga saya bisa menyelesaikan tugas dengan baik, tapi kalau sebaliknya semoga saya melakukan kesalahan,” entah darimana celetukan itu datang.

Saya memberi stempel dengan santai, karena pemberian stempel ini bukan hal baru. Cara memberi stempel dari dulu sama, dibubuhkan di sebelah kiri tanda tangan.

Tapi apa yang terjadi?

Image

bismillah...

Image

kalau lihat foto ini...

saya jadi bertanya-tanya...

saya ini pemuda atau pemudi ya?

namanya Pemuda Pelopor.. ndak ada Pemudi Pelopor...

kanan kiri saya laki-laki semua...

lha saya?

hehehhehe

Image

Image

 

DSCN7426

 

sip

Salah satu amanah tahun ini: Klub Penulis Kota Malang...

setelah melewati beberapa minggu penuh konsentrasi...

minggu kemarin kami rame-rame nulis di Amazy...

prepare buat proyek buku bareng...

bismillah...

Image

Minggu, 22 September 2013

Berita di koran hari Senin 8 Juli 2013 membuat saya bergetar dan byk bersyukur.. Tepat 1 hari sebelum gempa d malang selatan (5,9 richter, byk rmh rusak, dan ada yg meninggal) saya, suami, dan adik2 Asah Nurul Hayat main ke pantai tamban (dkt sendang biru). Saat itu pasang, ombak tinggi, saya berulangkali minum air laut dan kena arus ombak.. Asyik banget pokoknya hehe. kami sama skali tak ada feeling mw ada gempa... Bahkan hari senin, saya tdk merasa kalo ada gempa Robbi, terimakasih atas kesempatan hidup dan nikmat yang Kau berikan...luv UPantai Tamban Malang Selatan, sehari sebelum gempa... Image aksi adik-adik Asrama Anak Shaleh (ASAH) Nurul Hayat: Memasukan air laut ke dalam kaleng dengan menggunakan botol minum yang diberi lubang... bener-bener butuh perjuangan pas ngambil gambar ini. antara menjaga keseimbangan tubuh kena ombak, berusaha cari gambar yang pas, dan menjaga agar kamera imutku tidak jatuh ke dalam laut Image

Bismillah....

menguak kenangan tahun 2010, yang takan tergeser oleh waktu...

azizah rvshanif rvs lana revisikeren rvs maurice rvs sip rvs






inputSejak kuliah, saya selalu berangan-angan dapat mendidik di sekolah Islam yang biayanya terjangkau, berkualitas, dan menerima semua anak yang daftar.

Mengapa?

Bukan rahasia umum lagi kalau sekolah Islam di Indonesia, ehm tak jauh-jauh deh… di kota Malang aja, rata-rata biayanya mahal. Bayangkan biaya masuknya saja jauh lebih tinggi daripada DPP saya kuliah.

Dan mengapa saya memilih sekolah yang menerima semua siswa dengan kata lain tidak menolak siswa yang “kurang”? karena saya yakin setiap anak pasti memiliki kelebihan, minimal satu kelebihan lah. Dan bukankah semua ciptaan Allah tak ada yang sia-sia? Bukankah segala sesuatu yang diciptakan Allah pasti berhikmah?

Trus menurut penelitian, kecerdasan seseorang itu selalu berkembang. Menurut Gardner, kecerdasan dapat dilihat dari kebiasaan seseorang. Kebiasaan untuk membuat produk-produk baru yang punya nilai kreativitas dan kebiasaan yang yang menyelesaikan masalah secara mandiri (problem solving).

Alhamdulillah tahun 2010 saya menemukan sekolah tersebut dan ditawari untuk bergabung di sana (semoga untuk seterusnya sekolah ini akan tetap terjangkau dan berkualitas. Aamiin).



 

 

Ini adalah pengalamanku…
Hoaammm aku sedang bangun tidur lalu aku mandi dan pakai seragam olah raga. Habis itu aku ke rumah Ais, kenapa? Karena abiku tidak bisa ngantar. Jadi aku dititipkan di rumah Ais. Waktu itu Ais sedang siap-siap, terus aku dan Ais diantar oleh ibunya Ais.
Di sekolah sudah ada teman-teman. Untung aku bawa peta. Saat aku membuka peta, teman-teman datang mendekatiku untuk ikut melihat peta itu. Seperti apa ya? Oh ya! Sepeerti semut mengerubungi makanan yang manis. Hihihi..
Kemudian aku baris, membaca doa, terus berangkat. Di kebun teh, aku menunggu bu guru mengambil tiket, lalu aku ke tempat outbound, kemudian kita outbound.
Misalnya melewati jembatan dari kayu yang bentuknya seperti tabung yang panjang. Membuat bentuk atau huruf dari tali yang panjang . pokoknya banyak deh. Kemudian ummi datang pas mau mandi di kolam renang, tapi aku tidak bisa. Trus aku ganti di mobil kakungku, kemudian pulang…

9786020030074

Penulis: Fauziah Rachmawati Penerbit: Elex Media Komputindo

Genre: Teknologi dan Ilmu Terapan

Judul: Pendidikan Seks untuk Anak Autis

Penulis: Fauziah Rachmawati

Penerbit: PT Elex Media Komputindo

ISBN: 978-602-00-3007-4

Tebal: 137 hal

Dimensi: 14 x 21cm

Tahun terbit: 2012

Cetakan: ke I

DDC: 649.6

Ada begitu banyak orang yang belum mengetahui secara jelas bagaimana sebenarnya anak autis itu. Biasanya dikarenakan mereka cenderung enggan mencari tahu atau memang disebabkan belum meratanya informasi seputar autisme. Parahnya, sebagian kecil dari mereka memandang sebelah mata terhadap anak autis maupun orang tuanya karena pada umumnya pola tingkah anak autis memang ‘berbeda’ dari anak normal.

Autis adalah gangguan perkembangan yang kompleks menyangkut komunikasi, interaksi sosial, dan aktivitas imajinasi. Istilah autis ini pertama kali diperkenalkan tahun 1943 oleh Leo Kramer, seorang psikiater dari Harvard, yang telah melakukan pengamatan dan penelitian terhadap 11 penyandang kala itu. Itulah mengapa autis juga dikenal dengan istilah Syndrom Kramer. Komunikasi yang dimaksud adalah komunikasi secara utuh, baik verbal maupun nonverbal, sebab anak autis tidak mampu berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat, bahasa tubuh, melakukan kontak mata, bahkan membaca ekspresi wajah sekalipun. Inilah yang menyulitkannya beradaptasi di dalam kelompok masyarakat.

“Ketika itu ia mendapati gejala kesulitan berhubungan dengan orang lain, mengisolasi diri, perilaku yang tidak biasa dan cara berkomunikasi yang aneh, terlihat acuh terhadap lingkungan dan cenderung menyendiri. Seakan ia hidup dalam dunia yang berbeda.” (halaman 3)




 Tahun 2011 adalah tahun pembelajaran buat saya! Benar-benar tahun yang mendebarkan! Bagaimana tidak, sebagaian besar murid saya adalah laki-laki. Yang aktif tidak hanya satu lima orang tapi 95%. Bahkan beberapa guru TK sudah wanti-wanti kalau saya harus super sabar dalam menghadapi mereka.

Selain itu ada juga yang ADHD dan beberapa anak yang butuh adaptasi lama agar mau ikut pelajaran. Benar-banar WOW!

Bintang hijau, bintang kuning, dang bintang merah saya tidak sukses. Hamper tiap hari selalu ada yang protes kalau bintang hijau yang saya tempel di papan nama dicabut teman lain. Maklum, mungkin ada yang iri mengapa tidak mendapat bintang hijau.

Ada juga yang bilang, “Kalau aku dapat bintang merah, bintang nakal, itu berarti ibu mendoakan aku jadi anak nakal! Jadi semakin banyak bintang merah, nanti aku akan tambah nakal!”

Jleeeeb…

Perkataan si kecil membuat saya berpikir. Masak iya? Kan bukan itu tujuan saya hiks.

Image

Tiga hari ini Sholihah lain dari biasanya. Kurang semangat, murung, dan lebih pendiam. What happen with her? Dalam hati saya bertanya-tanya.

 “Tadi sudah sholat Shubuh?” dia mengangguk.

 “Sudah sarapan?” mengangguk lagi.

 Biasanya dia suka cerita kegiatan di rumah. Tapi akhir-akhir ini tidak ada cerita.

Ada apa ya?

 Apa PR terlalu banyak? Perasaan saya jarang ngasih PR. Apa dia bertengkar dengan teman? Sepertinya ndak juga. Apa mungkin ada masalah di rumah?

 Dan saking gemesnya lihat dia cemberut, saya minta anak satu kelas untuk pasang muka senyum. Mulai presensi awal sampai akhir. Dan mau ndak mau Sholihah senyum. Tapi senyum dipaksa hehehee.

 Ehm.. belum berhasil nih triknya, sayapun membuat satu games sederhana. Satu kelas saya beri selembar kertas. Saya minta anak-anak menulis tiga keinginan mereka dalam minggu ini.

 Di kelas saya, masing-masing anak mempunyai mading. Jadi mereka bebas manggambar, menulis, dan membuat karya di mading masing-masing. Lha kartu harapan ini saya minta dipasang di masing tersebut.

 Saya cek daftar keinginan anak-anak yang tertempel di mading. Ada yang ingin dapat nilai 100, pingin lebih disayang bunda dan ayah, beli mobil remote, rekreasi ke pantai, dan beragam keinginan yang lain.

 Berhentilah saya di mading Sholihah. Daftar keinginannya adalah

Kuis Keluarga...

ada banyak kekompakan dan keunikan yang terekam...

Manasik Haji 2011 (Koran Pendidikan)

Manasik Hhaji 2013...
semoga masuk koran lagi ^_^

iStock_000004226527XSmall-300x225Bila melalui reward anak-anak bias menjadi lebih baik mengapa ada punishment?

Inilah yang menjadi acuan saya ketika mengajar. Namun setelah beberapa tahun mengajar sepertinya punishment penting juga! Lho kok?

Ceritanya…

Ehm ini sekedar sharing pengalaman saja.

Tahun 2010, saya membuat bintang prestasi di kelas. Bintang prestasi ini terdiri dari tiga warna, hijau, kuning, dan merah. Penilaiannya tidak hanya kognitif saja, tapi juga afektif dan psikomotorik.

Warna hijau untuk anak-anak yang aktif, sopan, berani maju, berani tanya atau menjawab, dan yang dapat nilai di atas 80. Dengan kata lain ini adalah bintang prestasi.

Warna kuning untuk anak yang lupa belum mengerjakan PR, buku ketinggalan, dan yang alat tulisnya ketinggalan.

Sedang warna merah untuk yang hari itu mengganggu teman.

Lha pikiran punishment bermula dari sini, ketika anak-anak tanya, “Bu, kalau bintang merahnya banyak hukumannya apa? Kalau bintang hijau banyak dapat hadiah? Atau bu kalau bintang kuningnya banyak bagaimana?

Yang bintang hijaunya banyak jelas bakal dapat reward, karena memang yang bersangkutan berhak menerima hadiah.

Hadiah ini pun sebenarnya adalah tugas terselubung ^_^. Apa hadiahnya?

Dekatkan Cita-Cita Anak dengan Profesi Dokter

pagi ini, karena kangen dengan anak-anak.. saya membuka file foto. ee.. nemu nih foto..:)

Warna-Warni Kolase


1DSCN6520DSCN6535setelah sukses membuat kolase di kertas dan gerabah, sekarang saya mencoba memberikan tantangan ke anak-anak untuk membuat kolase di piring plastik..
bahan yang digunakan harus bahan bekas dan dari alam...
alhamdulillah hasilnya cukup memuaskan ;)

ImageSalah satu tema pelajaran bahasa Indonesia kelas tiga adalah alat transportasi. Kompetensi yang harus dipelajari diantaranya rambu-rambu lalu lintas.

Agar pelajaran menarik, sebelum masuk bab ini saya memberi tugas anak-anak untuk membuat rambu lalu lintas dari karton. Bagaimana bentuknya tergantung kreasi mereka.

Di hari H, saya membagi kelas menjadi dua kelompok melalui undian dari kertas. Kelompok A dan B. Setelah membagi kelompok, kami berbagi daerah kekuasaan.

Kelompok A berada di utara sungai sedang kelompok B di selatan sungai. Tugas masing-masing kelompok adalah menyembunyikan harta karun yang sudah saya siapkan dan membuat petunjuk arah dari rambu-rambu lalu lintas. Lha harta karun ini harus ditemukan oleh kelompok lawan.

Yang paling sulit ditemukan dan memasang rambu-rambunya tepat adalah pemenang. Pemenang akan mendapat harta karun tersebut.

So, masing-masing kelompok berusaha menyembunyikan harta katun agar tidak bias ditemukan. Ada banyak trik yang mereka buat. Mereka membuat jalur melingkar dan berkelok-kelok yang dapat membuat lawan kesulitan, ada juga yang menyimpan harta karun di tempat yang tak terduga, atau membuat kesan kalau itu bukan tempat persembunyian si harta karun.

Berbicara harta karun, sebenarnya apa sih isi harta karun ini? Sebenarnya isinya sederhana, saya membelikan kue sejumlah anak dan membungkusnya di koran.

“Masing-masing kelompok siap?” tanya saya di lapangan atas.

“Siap!” jawab mereka serempak.

“Butuh waktu berapa menit untuk menemukan harta karun lawan?” tantang saya.

“Sepuluh menit,”

“Lima belas menit,”

“Pas nya berapa?” canda saya.

“Tiga puluh menit,” mereka menawar.

“Hadeuh, kok makin lama?” tanya saya.

Bila melalui reward anak-anak bisa menjadi lebih baik mengapa ada punishment?


Inilah yang menjadi acuan saya ketika mendidik. Perlu pertimbangan berulang kali ketika harus memberikan punishment. Pentingkah? Namun setelah beberapa tahun mengajar sepertinya punishment penting juga!

Tahun 2010, saya membuat bintang prestasi di kelas. Bintang prestasi ini terdiri dari tiga warna, hijau, kuning, dan merah. Penilaiannya tidak hanya kognitif saja, tapi juga afektif dan psikomotorik.

Warna hijau untuk anak-anak yang aktif, sopan, berani maju, berani tanya atau menjawab, dan yang dapat nilai di atas 80. Dengan kata lain ini adalah bintang prestasi.

Warna kuning untuk anak yang terlambat, seragam kurang lengkap, buku ketinggalan, dan yang alat tulisnya ketinggalan.

Sedang warna merah untuk yang hari itu mengganggu teman serta yang lupa mengerjakan PR.

Image

"Bu, anak kelas II dan III berantem, mereka gedor-gedor dinding!" lapor beberapamurid perempuan.

Dinding? Dalam hati saya berdoa, semoga mading kelas III tidak berantakan.

"Iya bentar lagi ibu ke sana," jawab saya, segera menyelesaikan koreksi.

Anakku, anakku...

Lima meni tkemudian, beberapa anak kelas III (saya wali kelasnya) datang ke kantor guru.

"Bu Fauziah, Bu Fauziah..,"

"Ya?"memasang wajah marah, bersiap mendengar curhatan mereka kalau baru berantem.

"Bu, tadi kami pijat gratis!" teriak Hilmi.

"Pijat gratis?" tanya saya.